Wednesday, 6 April 2016

SYAIKH ALBANI & KESABARAN BELIAU DALAM BELAJAR DAN MENGAJAR

Berkata salah seorang murid Asy-Syaikh :

(( Sesungguhnya Asy-Syaikh beliau pernah duduk semalam suntuk 

Sampai-sampai ketika dikumandangkan adzan fajar di kota Madinah beliau sedang berdialog dengan salah seorang pemuda 

Setelah sholat fajar ditunaikan di Masjid Nabawi beliaupun ingin pergi ke kota Mekkah untuk mengerjakan Umroh maka kamipun berkata kepada beliau : " Engkau belum tidur " Beliaupun berkata : " Aku masih merasa kuat dan semangat " 

Maka beliau segera menaiki mobil dan kami ikut safar bersama Syaikh ke kota Mekkah 

Saat kira-kira jam 9 pagi beliau memarkirkan mobil di bawah naungan pohon dan beliau berpesan " Aku akan tidur 1/4 jam saja apabila aku belum bangun maka bangunkanlah aku "

Maka kami bergumam dalam hati ; " Kita tidak akan membangunkan Syaikh sampai beliau beristirahat "

Namun tatkala 1/4 jam berlalu beliau terbangun kemudian kembali menaiki mobil dan kamipun bertolak menuju Mekkah dan menunaikan umroh disana

Setelah itu beliau menyempatkan pergi ke salah satu rumah kerabatnya dan ternyata para penuntut 'ilmu telah duduk menunggu Asy-Syaikh 

Maka Syaikhpun duduk bersama mereka sebagaimana kebiasaan Syaikh saat dialog dan diskusi bahkan sampai malam hari tanpa terasa letih ))
2091 Maqolaat Albani // Nurud Diin Tholib 218

Dan murid Syaikh juga mengatakan :

(( Termasuk diantara hal yang menunjukkan kesabaran Syaikh dalam menuntut 'ilmu ... Bahwa Syaikh Nashir naik ke tangga perpustakaan Dzohiriyyah untuk mengambil kitab manuskrip 

Setelah memperoleh kitab dan membukanya , Beliau tetap berdiri di atas tangga beliau membaca kitab selama 6 jam lebih ))
2092 Maqolat Albani // Nuruddin Tholib (220)

Fawwaz bin Ali al-Madkhali

Syarat Mendapatkan Ilmu



๐Ÿ“berkata Al Imam As Syafi'i rahimahullah


"Ilmu itu tdk akan didapat kecuali dengan 6 hal
=========================================
1 ilmu butuh kecerdasan (dzaka), ada 2 mcm sifatnya anugrah dan hasil dari usaha belajar atau 
   menulis/muroja'ah
2 butuh kesungguhan
3 butuh ijtihad(semangat)
4 butuh modal/pengorbanan
5 butuh mulazamah/duduk dgn ustadz/syaikh
6 butuh waktu
Save 60% on select product(s) with promo code 60DECOVER on Amazon.com

Sifat Qana'ahnya Imam Ahmad

Dalam kitab Bidayah wan Nihayah diceritakan bahwa pernah suatu hari Imam Ahmad ketika sedang menimba ilmu di Yaman, rumahnya dimasuki pencuri.

Pakaian beliau ludes dicuri.


Imam Ahmad pun tidak bisa keluar rumah karena sudah tidak punya lagi pakaian tuk salin.


Dengan keadaan demikian, akhirnya selama beberapa waktu Imam Ahmad tak terlihat di majelis ilmu.


Teman-temannya merasa kehilangan karena mereka tidak tahu dengan apa yang sedang menimpa Imam Ahmad.


Mereka pun akhirnya bersama-sama menuju ke rumah Imam Ahmad untuk mencari kabar.


Ketika sampai di rumahnya, mereka pun menanyakan kabar beliau.


Imam Ahmad akhirnya terpaksa bercerita tentang kejadian yang menimpanya.


Karena rasa iba atas apa yang terjadi, di antara mereka ada yang menawarkan bantuan berupa emas kepada Imam Ahmad. 


Temannya mempersilahkan kepada Imam Ahmad agar emas tersebut digunakan untuk berbelanja dari segala kebutuhannya.


Tapi Imam Ahmad menolaknya.


Beliau hanya mau mengambil satu dinar dari salah seorang temannya.


Iu pun beliau ambil karena statusnya sebagai upah atas pekerjaan menyalinkan catatan kepada salah seorang temannya tersebut.


Allahu akbar!


Ikhwati fillah, 

Perhatikanlah! Sedemikian keadaannya Imam Ahmad, tapi beliau tidak mudah untuk meminta-minta.

Beliau tetap menjaga kehormatan dirinya.


Beda dengan kita, yang selalu berharap-harap bantuan dari manusia padahal keadaannya belum pada taraf darurat. 


Allahu musta'an.


Nastaghfirullah. 


(Kisah ini bisa dilihat di Al Bidayah wan Nihayah-Ibnu Katsir 1/329).

➖➖➖

KEDUDUKAN AL-BUKHARI DI SISI PARA IMAM ISLAM

๐Ÿ’บ 

▪Berkata Muhammad bin Abi Hatim:

"Aku mendengar sebagian sahabatku berkata:

Dahulu aku pernah berada di sisi Muhammad bin Salam. Lalu masuklah Muhammad bin Isma'il (yakni al-Imam al-Bukhari) menemuinya. Ketika beliau telah keluar, Muhammad bin Salam berkata:

"Setiap kali anak muda ini masuk menemuiku, aku merasa bingung. Dia mengacaukanku dalam masalah hadits dan selainnya. Dan aku terus menerus merasa kuatir (seperti itu) selama dia belum keluar(dari sisiku-pent).

▫Berkata Abu Ishaq:

"Barangsiapa yang ingin melihat seorang faqih (ahli fikih) yang sesungguhnya dan kejujurannya, maka lihatlah Muhammad bin Isma'il."

▪Berkata Yahya bin Ja'far:

"Andai aku mampu menambah umur Muhammad bin Isma'il dengan umurku, niscaya aku lakukan. Sebab kematianku (hanya) kematian satu orang lelaki. Akan tetapi kematiannya (bermakna) perginya ilmu."

▫Berkata Nu'aim bin Hammad:

"Muhammad bin Isma'il ahli fikihnya ummat ini."

▪Berkata Musaddad:

"Janganlah kalian menguji Muhammad bin Isma'il wahai penduduk Khurasan!"

▫Berkata Ahmad bin Abdis Salam:

"Kami menyebut perkataan al-Bukhari kepada 'Ali ibnul Madini, yakni {aku tidak pernah merasa diriku rendah kecuali di hadapan 'Ali ibnul Madini}. Berkata 'Ali (ibnul Madini):

"Biarkanlah orang ini! Sebab Muhammad bin Isma'il tidak melihat orang yang seperti dirinya."

▪Berkata Ishaq bin Rahuyah:

"Tulislah (hadits-pent) dari pemuda ini! Andai tiba waktu yang tepat (nanti), niscaya manusia akan membutuhkan pengetahuannya akan hadits dan fikihnya."

▫Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal:

"Aku mendengar ayahku berkata:

"Khurasan tidak pernah mengeluarkan (orang) semisal Muhammad bin Isma'il."

▪Berkata Muhammad bin Basysyar:

"Tidak ada yang mendahului kami (dalam ilmu) semisal Muhammad bin Isma'il."

▫Beliau juga berkata:

"Hafizh di dunia ada 4:

⚫ Abu Zur'ah ar-Razi di Rayy

⚪ Ad-Darimi di Samarqand 

๐Ÿ”ด Muhammad bin Isma'il di Bukhara 

๐Ÿ”ต Dan Muslim di Naisabur.

๐Ÿ“ Alih Bahasa: Abu 'Abdillah ุนูุง ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡

๐Ÿ”Ž Muraja'ah: al-Ustadz Abu 'Utsman Kharisman ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡

๐Ÿ‹ Thuwailibul 'Ilmisy Syar'i (TwIS)
_______________________
๐Ÿ‡ธ๐Ÿ‡ฆ Edisi Arabic 

๐Ÿ“Œู…ูƒุงู†ุฉ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ุจูŠู† ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…

▪ู‚ุงู„ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฃุจูŠ ุญุงุชู… "ุณู…ุนุช ุจุนุถ ุฃุตุญุงุจูŠ ูŠู‚ูˆู„: ูƒู†ุช ุนู†ุฏ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุณู„ุงู… ูุฏุฎู„ ุนู„ูŠู‡ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฅุณู…ุงุนูŠู„، ูู„ู…ุง ุฎุฑุฌ ู‚ุงู„ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุณู„ุงู…: ูƒู„ู…ุง ุฏุฎู„ ุนู„ูŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุตุจูŠ ุชุญูŠุฑุช ูˆุฃู„ุจุณ ุนู„ูŠ ุฃู…ุฑ ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆุบูŠุฑู‡ ูˆู„ุง ุฃุฒุงู„ ุฎุงุฆูุง ู…ุง ู„ู… ูŠุฎุฑุฌ". 

▫ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุฅุณุญุงู‚ "ู…ู† ุฃุฑุงุฏ ุฃู† ูŠู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ูู‚ูŠู‡ ุจุญู‚ู‡ ูˆุตุฏู‚ู‡ ูู„ูŠู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฅุณู…ุงุนูŠู„". 

▪ู‚ุงู„ ูŠุญูŠู‰ ุจู† ุฌุนูุฑ "ู„ูˆ ู‚ุฏุฑุช ุฃู† ุฃุฒูŠุฏ ููŠ ุนู…ุฑ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฅุณู…ุงุนูŠู„ ู…ู† ุนู…ุฑูŠ ู„ูุนู„ุช، ูุฅู† ู…ูˆุชูŠ ูŠูƒูˆู† ู…ูˆุช ุฑุฌู„ٍ ูˆุงุญุฏ، ูˆู…ูˆุชู‡ ุฐู‡ุงุจ ุงู„ุนู„ู…". 

▫ู‚ุงู„ ู†ุนูŠู… ุจู† ุญู…ุงุฏ: "ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฅุณู…ุงุนูŠู„ ูู‚ูŠู‡ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู…ุฉ". 

▪ู‚ุงู„ ู…ุณุฏุฏ "ู„ุง ุชุฎุชุงุฑูˆุง ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฅุณู…ุงุนูŠู„ ูŠุง ุฃู‡ู„ ุฎุฑุณุงู†". 

▫ู‚ุงู„ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุณู„ุงู… "ุฐูƒุฑู†ุง ู‚ูˆู„ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ู„ุนู„ูŠ ุจู† ุงู„ู…ุฏูŠู†ูŠ -ูŠุนู†ูŠ- ู…ุง ุงุณุชุตุบุฑุช ู†ูุณูŠ ุฅู„ุง ุจูŠู† ูŠุฏูŠ ุนู„ูŠ ุจู† ุงู„ู…ุฏูŠู†ูŠ، ูู‚ุงู„ ุนู„ูŠ: ุฏุนูˆุง ู‡ุฐุง، ูุฅู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฅุณู…ุงุนูŠู„ ู„ู… ูŠุฑَ ู…ุซู„ ู†ูุณู‡". 

▪ู‚ุงู„ ุฅุณุญุงู‚ ุจู† ุฑุงู‡ูˆูŠู‡ "ุงูƒุชุจูˆุง ุนู† ู‡ุฐุง ุงู„ุดุงุจ ูู„ูˆ ูƒุงู† ููŠ ูˆู‚ุช ุงู„ุญุณู† ู„ุงุญุชุงุฌ ุงู„ู†ุงุณ ู„ู…ุนุฑูุชู‡ ุจุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆูู‚ู‡ู‡". 

▫ู‚ุงู„ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญู†ุจู„: ุณู…ุนุช ุฃุจูŠ ูŠู‚ูˆู„ "ู…ุง ุฃุฎุฑุฌุช ุฎุฑุณุงู† ู…ุซู„ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฅุณู…ุงุนูŠู„". 

▪ู‚ุงู„ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุจุดุงุฑ "ู…ุง ู‚ุฏู… ุนู„ูŠู†ุง ู…ุซู„ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฅุณู…ุงุนูŠู„". 

▫ู‚ุงู„ ุฃูŠุถุง "ุญูุงุธ ุงู„ุฏู†ูŠุง ุฃุฑุจุน: ุฃุจูˆ ุฒุฑุนุฉ ุจุงู„ุฑูŠ، ูˆุงู„ุฏุงุฑู…ูŠ ุจุณู…ุฑู‚ู†ุฏ، ูˆู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฅุณู…ุงุนูŠู„ ุจุจุฎุงุฑู‰، ูˆู…ุณู„ู… ุจู†ูŠุณุงุจูˆุฑ". 

[ู…ู‚ุฏู…ุฉ ุฅู…ุฏุงุฏ ุงู„ู‚ุงุฑูŠ ุจุดุฑุญ ูƒุชุงุจ ุงู„ุชูุณูŠุฑ ู…ู† ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ู„ู„ุนู„ุงู…ุฉ ุนุจูŠุฏ ุงู„ุฌุงุจุฑูŠ ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุท: ูก]، (ูก/ ูกูฅ) 

https://telegramme/ubaid_aljabry

Selasa, 23 Rabi'uts Tsani 1437H/02 Februari 2016

Sebuah Pasukan Perang yang Gagal


๐Ÿ‘ ๐Ÿ“’๐Ÿ’Ž Mutiara Salaf ๐Ÿ’ค Jangan engkau jadikan khutbah jum'at sebagai pengantar tidur —◎※◎— ⚠ Diriwayatkan dari Ibnu Aun dari Ibnu Sirin bahwa beliau berkata, "Mereka (para shahabat) membenci tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencelanya dengan celaan yang keras." Ibnu Aun berkisah, "Kemudian setelahnya aku bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, 'Tahukah kamu apa komentar para shahabat tentang perbuatan tersebut? Para shahabat menyatakan bahwa para pelakunya seperti (tidak mendapatkan ghanimah sama sekali)."

๐Ÿ““ Sumber : Tafsir Al-Qurthubi 18/117. ➖➖➖➖➖➖➖ ุฌูˆุงู‡ุฑ ู…ู† ุฃู‚ูˆุงู„ ุงู„ุณู„ู ุนู† ุงุจู† ุนูˆู† ุนู† ุงุจู† ุณูŠุฑูŠู† ู‚ุงู„ : ูƒุงู†ูˆุง ูŠูƒุฑู‡ูˆู† ุงู„ู†ูˆู… ูˆุงู„ุฅู…ุงู… ูŠุฎุทุจ ูˆูŠู‚ูˆู„ูˆู† ููŠู‡ ู‚ูˆู„ุง ุดุฏูŠุฏุง. ู‚ุงู„ ุงุจู† ุนูˆู† : ุซู… ู„ู‚ูŠู†ูŠ ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ ูู‚ุงู„ : ุชุฏุฑูŠ ู…ุง ูŠู‚ูˆู„ูˆู†؟ ู‚ุงู„ ูŠู‚ูˆู„ูˆู† : ู…ุซู„ู‡ู… ูƒู…ุซู„ ุณุฑูŠุฉ ุฃุฎูู‚ูˆุง. ุงู„ู…ุตุฏุฑ : ุชูุณูŠุฑ ุงู„ู‚ุฑุทุจูŠ ูกูจ/ูกูกูง ◑◐◑◐◑◐◑◐◑◐◑◐◑◐◑◐ ๐Ÿ’กUstadz Abu Hafiy Abdulloh

Wednesday, 31 December 2008

Jauhi Syirik??? masa' c....???

Syirik tuch fenomena yg g asing lagi di masyrkat, dg adanya dukun(modern atupun dukun kampung sama aja), benda2 yg dipercaya punya power(dari keris sampe jimat modern) n dll...
Memang dosa paling besar, menurut Islam, adalah dosa syirik atau mempersekutukan Tuhan. Sampai-sampai Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa saj ayang Ia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah (syirik), maka sungguh ia telah melakukan dosa yang sangat besar." (QS 4. An-Nisaa: 48)
tapi temen2 mgkn pernah liat orang malah pake batu akik sbg cincin yg dianggap punya kekuatan huebat....
emg bener kah??tidak ada bedanya dijaman dahulu dan sekarang ini apabila masih ada orang yang masih percaya dengan benda-benda yang bisa memberikan kekuatan, bertuah, dan diyakini bisa mendapatkan keuntungan dan barokah..maka orang tersebut bisa tergolong menjadi orang yang melakukan kesyirikan..naudzubillah

 
moga qt smua dihindarkan dari hal macem syirik, inget kekuatan Allah no 1 g ada yg bisa nandingi...



 click here : http://eimimo.com/?ref=122689

Tuesday, 30 December 2008

Yang Saya Tau Tentang Jilbab

Oleh : Sholehudin Moehtadi*

"….ketika seorang bertanya kepada temannya, apakah yang paling berharga bagi seorang manusia?" temannya menjawab "Ilmu, karena dengannya seorang bisa hidup".

"Kalau tidak ada ilmu?"

"Harta, karena denganya seorang mengasihi orang lain".

"Kalau tidak ada harta?"

"Mulut yang diam"

"Kalau tidak ada?"

"Kematian yang menggenaskan".

(dikutip dari kitab min syiami al-uqola karya Al-A'baadi Al-Andalusi)

Dalam menyikapi perintah-perintah Allah SWT ada dua macam golongan manusia di muka bumi ini yang saya ketahui. Golongan yang pertama adalah mereka yang berhati lurus. Ketika Allah SWT memerintahkan mereka agar melakukan sesuatu seperti misalnya "Kamu harus melakukan sholat lima waktu dalam sehari !" atau misalnya "Kamu mesti membayar zakat !" atau "Kamu mesti menutup aurat dengan berjilbab !" maka dengan penuh hikmat mereka melaksanakan perintah-perintah tersebut tanpa ada ganjalan sedikitpun dalam hatinya, apalagi menggrundel. Mereka adalah para kekasih Allah SWT yang tersebar di penjuru bumi. Golongan yang kedua adalah mereka yang belum lurus hatinya. Ketika Allah SWT memerintahkan mereka dengan perintah-perintah seperti misal di atas mereka akan berkata "Kenapa mesti sholat lima waktu, tidak satu waktu saja !? Kenapa mesti bayar zakat dan menutup aurat segala, Bukankah yang penting bagi manusia adalah berbuat baik". Lebih ngeri lagi mereka berkata "Untuk apa kita sholat, berzakat dan berjilbab kalau nasib kita masih begini-begini saja?!" Padahal ketika mereka mendapat perintah dari mertuanya atau dari bossnya untuk melakukan suatu pekerjaan yang tidak enak sekalipun mereka selalu bilang "Siap pak!" atau "Iya pak!" atau "Enggeh pak de!" Kepada model orang semacam ini kita berharap agar Allah SWT merahmatinya. Allah Yarhamuh.

Memakai jilbab adalah kewajiban bagi setiap muslimah. Tidak ada satu ulama pun di dunia ini dari sejak zaman para imam sampai sekarang yang mengatakan tidak wajib, kecuali ulama yang perlu diluruskan hatinya yang mengatakan tidak wajib. Tentu saja ada saat-saat kapan seorang muslimah itu tidak diwajibkan memakai jilbab. Itu bisa kita baca di buku-buku fiqih atau tanya sama ustadz dan ustadzah yang mengerti soal ini. Kemudian para ulama tersebut, ketika mereka mengatakan bahwa berjilbab itu wajib, mereka mengatakan berdasar atas perintah Allah SWT yang termaktub di dalam Al-Qur'an, diantaranya yang terdapat dalam surah al-Ahzab ayat 59. "Tapi Al-Qur'an kan butuh penafsiran, tidak kita ambil mentah-mentah begitu saja!?" yah, silahkan anda tafsiri kalau anda memenuhi syarat untuk itu. Asal jangan menafsiri Al-Qur'an dengan bahasa jawa saja. Seperti darmo gandul.

"Oke mas, saya terima kalau pakai jilbab itu wajib, tapi tempatnya di hati. Bukan di kepala!?".

Allah SWT ketika melarang kaum hawa agar tidak memperlihatkan apapun yang mempercantik dirinya, dan itu adalah seluruh anggota badanya, kecuali ada beberapa anggota badan yang boleh diperlihatkan di depan umum (An-Nur : 31). Ulama berbeda pendapat tentang beberapa anggota badan kaum hawa yang boleh ditampakkan. Ulama Malikiyyah dan Hanafiyyah berpendapat bahwa anggota badan tersebut adalah wajah dan kedua telapak tangan, mereka mengambil pendapat dari beberapa sahabat dan para tabi'in seperti Said bin Jubair ra dan A'tho bin Robah ra. Mereka berargumen, bukti bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan aurat adalah ketika sholat wanita membuka wajah dan kedua telapak tangannya, begitu juga ketika berihram. Kalau saja wajah dan kedua telapak tangan itu aurat maka mereka tidak diperbolehkan memperlihatkannya di dalam sholat. Karena membuka aurat di dalam sholat adalah batal. Adapun Syafi'iyyah dan Hambaliyyah berpendapat bahwa seluruh anggota badan wanita di luar sholat adalah aurat termasuk wajah dan kedua telapak tangan. Mereka membangun pendapat tersebut dari hasil interpretasi surat An-Nur ayat 31, juga banyak Hadist dan dalil aqli yang pada kesempatan kali ini tidak saya tuturkan satu persatu karena keterbatasan ruang dan waktu. Hanya saja mereka berpendapat bahwa kata "Ziynah" di dalam surah An-Nur ayat 31 yang kalau kita tafsiri secara bebas dalam bahasa Indonesia menjadi perhiasan atau kecantikan, memiliki dua pengertian. Yang pertama adalah "Ziynah" (perhiasan atau kecantikan) secara alami, dan wajah adalah asal dari "Ziynah" yang sifatnya alami. Bahkan ia adalah sumber dari keacantikan. Kedua adalah "Ziynah" yang tidak alami, ia adalah sesuatu yang dengan sesuatu tersebut wanita mempercantik dirinya. Seperti baju, bedak, lipstick dan sebagainya. Dan Allah SWT melarang kaum hawa untuk tidak memperlihatkan kecantikannya secara mutlak baik yang alami atau tidak alami, yaitu yang terdapat di dalam surah An-Nur ayat 31.

Perbedaan pendapat ulama dalam masalah wajah dan kedua telapak tangan wanita di atas tadi saya tuturkan dengan sangat singkat dan ringkas. Para ulama kontemporer sepertinya lebih banyak condong kepada pendapat Malikiyyah dan Hanafiyyah yang berpendapat bahwa wajah dan kedua telapak tangan wanita bukan aurat. Mereka mengatakan bahwa tugas kaum wanita adalah untuk menutupi seluruh anggota badanya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Adapun wajah yang terbuka yang masih dapat dilihat oleh kaum laki-laki asing adalah tugas bagi kaum laki-laki tersebut agar tidak melihatnya. Dan yang merintahkan kaum laki-laki agar tidak melihat wajah kaum perempuan adalah Allah SWT (An-Nur : 30) sebaliknya kaum hawa pun tidak diperkenankan untuk melihat wajah kaum laki-laki (An-Nur : 31). Tentu saja larangan-larangan tersebut sifatnya tidak mutlak, ada saat-saat tertentu kapan kaum laki-laki diperbolehkan melihat wajah wanita bahkan disunnahkan untuk memandangnya. Seperti ketika laki-laki hendak meminang seorang gadis misalnya. Atau dalam praktek jual beli. Juga ada saat-saat kapan kaum wanita diperbolehkan memperlihatkan kecantikannya, bahkan disunnahkan. Seperti di depan suaminya dan banyak contoh-contoh lain yang terdapat dalam kitab-kitab fiqih atau tanya sama ustadz dan ustadzah yang saya sebutkan di atas tadi.

Dari uraian di atas tadi kita bisa mengerti bahwa maksud dari jilbab (hijab) adalah jilbab secara dhohiriyah bukan maknawiyah (jilbab hati). Adapun 'jilbab hati' - kalau yang dimaksud itu adalah hati yang bersih - maka ada banyak perintah-perintah dari Allah SWT dan Rosulullah Saw yang menuntut seluruh manusia untuk men-jilbabi hati-nya. jadi dalam soal 'jilbab hati' ini perintahnya tidak saja untuk kaum wanita, kaum laki-laki pun wajib men-jilbabi hati-nya, bahkan waria pun wajib. Karena setiap mahluk yang berakal diperintahkan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. Dan beribadah kepada Allah SWT harus memiliki hati yang bersih dari unsur-unsur syirik dan riya, yaitu hati yang ihklas dan ber-jilbab.

"…Iya, tapi kenapa yang disuruh pakai jilbab kok cuma kaum perempuan saja. Ini namanya diskriminasi mas..! Bukankah laki-laki dan perempuan pada hakikatnya adalah sama-sama manusia yang memiliki keindahan dan syahwat duniawiah?"

Aduh, saya tidak dapat membayangkan mbak jika kaum laki-laki diwajibkan pakai jilbab seperti perempuan. Apalagi jika laki-laki itu adalah orang arab yang memiliki jenggot dan kumis yang melintang tebal tentu tampangya akan menjadi kacau dan tidak karuan. Tetapi mungkin sebagai jawaban atas pertanyaan di atas seperti apa yang dikatakan Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buti dalam kitabnya ila kulli fataatin tu'minu billah (Buat setiap gadis yang beriman kepada Allah) bahwa Allah SWT menjadikan fitrah bagi kaum perempuan yang secara psikis lebih banyak menjadi pribadi yang dicari dari pada pribadi yang mencari(Hunted, bukan Hunter). Sehingga sebesar apapun syahwat perempuan terhadap laki-laki ia akan selalu dalam posisi menunggu dan meninggikan dirinya. Berbeda dengan kaum laki-laki ketika nafsunya menginginkan sesuatu, ia selalu dalam posisi mencari dan seluruh kekuatan yang dimilikinya digerakkan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya itu. Maka dari itu perempuan menjadi fitnah bagi laki-laki lebih besar daripada laki-laki menjadi fitnah bagi perempuan. Dan itu sesuai dengan apa yang pernah dikatakan Rosulullah Saw yang dalam terjemahan secara bebasnya demikian :" Sekali-kali aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada perempuan" (mutafaq alaih).

Nah, jika seperti ini kenyataanya, kita tahu bahwa perintah Allah SWT terhadap kaum perempuan agar menggenakan jilbab bukanlah sesuatu yang diskriminatif. Itu sengaja diperintahkan oleh Allah SWT, pertama untuk melindungi kaum perempuan dari bahaya lelaki yang berhidung belang dan kedua demi keseimbangan kejiwaan masyarakat secara umum (lingkungan sosial). Ibnu Al-Jauzi dalam kitabnya "Ahkam An-Nisa" ketika menjelaskan tentang kenapa kaum perempuan tidak diperkenankan untuk berpergian sendirian tanpa mahromnya, beliau mengatakan itu demi keselamatan kaum perempuan dan keselamatan publik. Bukankah pada saat yang sama laki-laki juga diperintahkan agar tidak melihat perempuan yang tidak halal baginya secantik apapun permpuan tersebut, baik berjilbab atau tidak berjilbab. Itu pun sengaja diperintahkan Allah SWT bagi kaum laki-laki dengan tujuan untuk meringankan beban syahwat laki-laki yang diciptakan sebagi mahluk yang lemah dan selalu condong terhadap syahwat dunia ( surah An-Nisa : 27-28). Jadi kosong-kosong kan?

Jadi akan lebih selamat dunia-akherat bagi seseorang yang masih belum sanggup memenuhi perintah Allah, agar tidak memungkirinya sebagai kewajiban. Dia Jiwanya yang dipenuhi dengan nafsu dunia telah mengalahkan ketaatannya kepada Allah, Namun demikian hatinya tetap mengakui kehinaannya di hadapan Allah disebabkan kemaksiatan-kemaksiatan dan mengharap rahmat-Nya agar dikeluarkan dari lingkaran kemaksiatan tersebut. Orang seperti ini suatu hari nanti dengan rahmat-Nya Allah akan mengubah garis hidupnya menjadi hamba yang taat dan dijadikan sebagi kekasihnya. Karena inti dari ubudiyyah (penghambaan diri) adalah mengakui dan tunduk atas hukum-hukum dan kebesaran Allah SWT. Ibnu Athoillah As-Sakandari mengatakan "Kemaksiatan yang diiringi dengan kerendahan diri dan mengakui kebesaran Allah lebih baik dari pada ketaatan yang diliputi dengan kesombongan dan ketakaburan". Tetapi ini jangan dipahami bahwa berbuat maksiat lebih baik dari pada berbuat taat.

Lain halnya dengan orang yang belum sanggup memenuhi kewajiban yang diperintahkan Allah SWT tetapi mengingkari itu sebagai kewajiban dari-Nya, kemudian takabur terhadap hukum-hukum Allah, kita takutkan dia akan mati sengsara dunia dan akherat. Apalagi sampai mengumbar mulutnya untuk berbicara tentang agama yang dia tidak mengetahuinya dengan benar, kepada orang yang semacam ini, dia tidak saja diwajibkan untuk men-jilbabi kepala dan hatinya, tetapi juga lebih utama ia diwajibkan untuk men-jilbabi mulutnya agar tidak melukai kemanusian. Sebab jika mulutnya tidak menggenakan jilbab saya takut ia akan terkapar di atas ring kehidupan ini secara menggenaskan. Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang taat dan menggabungkan kita dalam barisan para kekasih-Nya amin. Wallahu a'lam bisshawab.

http://www.avangate.com/affiliates/activate.php?code=lsh8easyqym1359331683